|
Berita -
JogjaIT
|
|
Ditulis oleh Admin
|
|
Kamis, 14 Januari 2010 14:23 |
|
Perusahaan dari Jepang yang pernah bertandang ke jogja dan bertemu dengan pengurus JogjaIT pada saat itu disambut di STIMIK AMIKOM, untuk kali ini datang kedua kali dengan tujuan menjalin kerjasama yang lebih jauh dengan JogjaIT. Pertemuan di lakukan di Bumbu Pawon jl.demangan yogyakarta, pertemuan diawali dengan presentasi dari JogjaIT yaitu diawali dengan Pak Hariyanto yang mempresentasikan produk Animasi dan dilanjutkan oleh pak Aulia Reza yang mempresentasikan produknya yaitu di Taman Pintar dibidang sains,IT. mas Aditya dari Gamatechno . Mas Azmiansyah mewakili dari RPI yang mempresentasikan Software dari RPI, dan dilanjutkan Vita dari ruang Kerja SE, samuel henry interactive, Amikom diwakili pak Arif setyanto, widi dari sekretariat jogjaIT, AAT Shadewa dari virologi Jogja, Heri dari Open Solaris, Rm.Harchanie dari Kanigoro Kreasi solusi, dan dilanjutkan dengan makan siang bersam. suasana jadi tambah mencair ketika kita bisa ngobrol dengan para tamu. Dengan adanya pertemuan ini diharapkan ada peluang bagus untuk JogjaIT bisa Dikenal di Internasional, dan membawa produk - produk dari Rekan JogajIT bisa di kenal di Internasional. |
|
|
Berita -
JogjaIT
|
|
Ditulis oleh Admin
|
|
Rabu, 14 Oktober 2009 10:54 |
|
|
|
Selanjutnya...
|
|
Berita -
JogjaIT
|
|
Ditulis oleh Admin
|
|
Jumat, 09 Oktober 2009 09:30 |
Ini dia sedikit bocoran tambahan tentang notebook teringan di dunia dari Sony yaitu Sony Vaio X Series yang sebelumnya pernah kami tampilkan beberapa fotonya.
Bahan carbon-fiber dan alumunium yang digunakan di seri X ini membuat laptop ini mempunyai berat teringan yaitu sekitar 680 g dengan ukuran layar 11,1 inch widescreen. Spesifikasi lainnya yang muncul di publik saat ini antara lain multitouch trackpad, hardisk SSD, sistim operasi Windows 7 Standard, Wi-Fi (b/g/Draft n), Bluetooth, Ethernet port, webcam dan prosesor Intel Atom Z550 (2 GHz).
Untuk ketahanan baterainya, Sony mengklaim notebook ini bisa digunakan sampai 3,5 jam atau bisa sampai 14 jam bila menggunakan baterai tambahan tetapi kami yakin baterai tambahan ini akan membuat si X ini menjadi gendut dan berat.
Yang cukup menggangu kami adalah keberadaan VGA portnya yang bila diperhatikan malah lebih besar dari ketebalan notebook itu sendiri padahal biasanya Sony menyertakan mini port VGA bukan standar VGA. Aneh juga dalam hal ini!!
Bicara mengenai harga, bukan Sony namanya kalau menjual notebook murah karena dengar-dengar harganya akan berada di kisaran US$ 1.500. |
|
|
Berita -
JogjaIT
|
|
Ditulis oleh Admin
|
|
Senin, 12 Oktober 2009 09:46 |
akarta - Open Source saat ini dinilai sudah mulai dilirik oleh kalangan industri. Selain karena murah, dukungan teknis dari banyak komunitas Open Source di Tanah Air membuat mereka berani mencoba memanfaatkan aplikasi bersistem terbuka ini untuk solusi IT perusahaannya.
Hal ini terungkap dalam seminar dan workshop Shining Sun yang berlangsung dari Sabtu-Minggu (10-11 Oktober 2009) yang diselenggarakan oleh mahasiswa Ilmu Komputer Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.
"Sekarang, industri sudah melek dengan Open Source. Karena secara investasi, dengan Open Source jauh lebih murah dan tidak diragukan lagi kehandalannya," ungkap Rachmat Gunawan, Ahli Muda IT dan Konten, Divisi Sales Engineering PT INTI saat diskusi panel.
Ditambahkan oleh Rachmat, saat ini di Indonesia ada 15.000 software house. Jumlah tersebut terus bertambah seiring dengan kebutuhan masyarakat akan teknologi yang semakin meningkat tiap tahunnya.
Senada dengan Rachmat, Alex Budiyanto, Community Development Officer Sun Microsystem Indonesia juga mengakui bahwa saat ini bukan saja dari pelaku industri swasta, intansi pemerintah juga sudah menggunakan Open Source dalam mendukung aktifitasnya. Maka dari itu, mahasiswa juga seharusnya sudah akrab dengan Open Source.
Alex berpendapat demikian karena menurutnya saat ini Open Source sudah bisa menjadi solusi bagi kebutuhan mahasiswa. Aplikasi yang dimiliki Open Source sudah sebanding dengan aplikasi yang dimiliki aplikasi propiretary yang banyak dipergunakan oleh masyarakat Indonesia.
"Sekarang saya tanya, apa yang tidak bisa dilakukan oleh Open Source untuk mendukung aktifitas belajar mengajar? Semuanya sudah ada. Jadi sudah saatnya kita berkreasi dengan Open Source," tegasnya. |
|
Berita -
JogjaIT
|
|
Ditulis oleh Admin
|
|
Rabu, 07 Oktober 2009 10:48 |
 Setelah mengganti logonya dengan Mahatma Gandhi, Google mengganti lagi logonya di homepage Google.com. Kali ini, Google membuat peringatan penemuan hak patent barcode. Menurut Wikipedia, hak patent barcode ditemukan pada tanggal 7 Oktober 1952. Gambar logo Google atau yang disebut doodle tersebut awalnya hanya dapat dilihat di wilayah Australia, New Zealand, Jepang, dan Taiwan. Kini doodle tersebut sudah dapat dilihat di berbagai wilayah tersebut. |
|
|
|
|
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 Berikutnya > Akhir >>
|
|
Halaman 1 dari 3 |